“Alam Semesta”
・・・
“Space”
・・・
Sejak zaman kuno, manusia telah menatap langit malam yang penuh bintang, menumbuhkan rasa ingin tahu tentang cahaya yang bersinar dari kejauhan.
Dari kata “alam semesta”, terlintas beragam imajinasi. Visi yang menggabungkan realitas dan imajinasi dalam sains dan seni. Meski penuh misteri, kita perlahan mengubah ketidaktahuan menjadi pengetahuan dan membentuk citra tentang alam semesta. Kali ini, mari kita menyentuh kembali kenangan masa lalu ketika alam semesta diabadikan dalam fotografi.
Upaya Menangkap Cahaya dari Alam Semesta
Empat ratus tahun lalu, Galileo Galilei pertama kali mengarahkan teleskop ke langit malam. Namun, meski menemukan benda langit baru, saat itu satu-satunya cara mendokumentasikan hanyalah melalui sketsa. Apakah para pendahulu kita telah menyadari bahwa sketsa dan fotografi memiliki makna dokumentasi yang berbeda? Sejak abad ke-19, bersamaan dengan penemuan fotografi, berbagai upaya untuk memotret benda langit pun dimulai.
Pada masa awal penemuan fotografi, bahkan untuk pemotretan siang hari yang terang diperlukan eksposur 10 hingga 20 menit, sehingga pengambilan gambar benda langit menghadapi keterbatasan teknis. Namun, seiring meningkatnya performa bahan sensitif cahaya serta efisiensi proses pencucian dan fiksasi, mulai diproduksi pelat kering dengan sensitivitas setara ISO100 seperti film masa kini, sehingga situasi perlahan berubah.
David Gill (1843-1914), seorang astronom Inggris sekaligus kepala Observatorium Cape of Good Hope di Afrika Selatan, menantang diri memotret benda langit menggunakan kamera potret dan berhasil mengambil banyak foto astronomi. Di antaranya, foto Komet Besar (C/1882 R1) yang diambil pada 14 November 1882 sangat terkenal. Pada masa ketika sensor digital belum ada, manusia telah berhasil menangkap cahaya alam semesta ke dalam medium fisik.

Komet Besar tahun 1882
Sebelum Era Pesawat Luar Angkasa Apollo
Mungkin masih banyak yang mengingat siaran langsung program Apollo. Tak terlupakan, misi berawak pertama manusia ke Bulan. Gagasan bahwa manusia bisa menjelajah luar Bumi, melampaui batas planet, bahkan bagi kita saat ini, luar angkasa tetaplah ruang yang penuh misteri. Bisa jadi, pada masa itu, perasaan takjub itu bahkan terasa tak masuk akal.

Namun, sebelum program Apollo dimulai pada tahun 1961, sudah ada para pionir yang berani dan penuh tekad mencoba memotret dari luar angkasa.

Foto ini diambil oleh kamera yang dipasang pada roket V2 yang diluncurkan dari gurun New Mexico pada 24 Oktober 1946. Foto yang kurang dikenal ini memiliki makna historis sebagai salah satu gambar pertama yang diambil dari luar angkasa. Kamera tersebut dirancang untuk mengambil satu gambar setiap 1,5 detik dari ketinggian 65 mil, dan hanya dalam beberapa menit filmnya kembali ke Bumi. Foto ini memberikan perspektif baru bagi manusia untuk secara objektif melihat keberadaan Bumi dari luar angkasa.
Bagaimana menurut Anda? Mungkin hanya kita yang hidup saat ini yang memiliki privilese untuk membayangkan rupa Bumi yang telah dihuni manusia sejak zaman kuno. Terpesona oleh cahaya yang datang dari jutaan tahun cahaya jauhnya, kita mengagumi dunia kosmos melalui foto-foto astronomi yang diwariskan para pendahulu. Rasa ingin tahu terhadap langit malam yang diwariskan akan terus mendorong inovasi di masa depan.




