“Saat memotret, sadarilah subjek foto Anda.”
Ungkapan ini kerap kita jumpai dalam buku maupun kelas fotografi.
Tentu saja, cara berpikir tersebut tidak keliru. Namun, sejak lama saya merasa ada sesuatu yang mengganjal dari ungkapan itu.
Ketika masih menjadi mahasiswa dan mendokumentasikan kegiatan sebagai bagian dari tim hubungan masyarakat sebuah organisasi relawan, pendekatan tersebut sangat membantu. Namun, setelah mulai bekerja dan semakin sering memotret sebagai hobi, cara berpikir yang sama terkadang justru membuat fotografi terasa membebani.
Jika direnungkan kembali, saya rasa perbedaannya terletak pada “tujuan fotografi”. Dan yang sebenarnya saya perlukan bukanlah terus-menerus memikirkan subjek, melainkan menyadari apa yang telah memantik respons saya hingga menekan tombol rana.
Dalam “fotografi yang menyampaikan pesan”, subjek memang diperlukan
Semasa mahasiswa, saya mendokumentasikan berbagai kegiatan sebagai bagian dari tim hubungan masyarakat sebuah organisasi relawan.
Jika ingin menyampaikan suasana sebuah acara, saya memotret ekspresi para peserta.
Jika ingin memperlihatkan proses kerja, saya memotret tangan atau peralatan yang digunakan.
Fotografi memiliki tujuan berupa “apa yang hendak disampaikan”, sehingga menentukan subjek berdasarkan tujuan tersebut merupakan cara berpikir yang sangat wajar.
Dalam fotografi dokumenter dan kehumasan semacam ini, kesadaran terhadap subjek sangatlah penting. Agar informasi tersampaikan secara akurat kepada audiens, semakin jelas “apa yang ingin diperlihatkan oleh foto tersebut”, semakin mudah pula pesannya dipahami.

Foto oleh HANA-STUDIO
Dalam fotografi sebagai hobi, pendekatan itu tidak lagi sesuai
Setelah mulai bekerja, saya semakin sering memotret sebagai hobi.
Sambil berjalan-jalan, saya menekan tombol rana pada saat menemukan sesuatu yang terasa menarik. Meskipun cara memotret semacam itu menjadi kebiasaan utama, saya masih berpikir bahwa saya “harus menyadari subjek”.
Akibatnya, saya mulai menciptakan jawaban setelah memotret, dengan berpikir, “Apa yang sebaiknya dijadikan pusat perhatian?” atau “Saya harus membuat komposisi yang subjeknya mudah dikenali.”

Foto oleh HANA-STUDIO
Tanpa disadari, tujuan saya bukan lagi mencari sesuatu yang sungguh memikat hati, melainkan menemukan “subjek yang dianggap baik secara fotografis”.
Sejak saat itu, fotografi tidak lagi terasa semenyenangkan sebelumnya.
Yang dibutuhkan bukanlah “memikirkan”, melainkan “menyadari”
Ketika kemudian meninjau kembali foto-foto favorit, saya menyadari adanya satu kesamaan.
Meskipun merasa sedang memotret bunga, sesungguhnya bukan bunga itu sendiri yang paling memikat saya. Saya ternyata sangat responsif terhadap “cahaya”: cahaya yang menembus kelopak bunga, kontur yang tampil akibat cahaya latar, serta berkas sinar matahari yang menyelinap di antara dedaunan.

Foto oleh HANA-STUDIO
Saat memotret, saya tidak secara sadar memikirkan hal tersebut.
Saya hanya memotretnya karena merasa bahwa pemandangan itu menarik.
Karena itu, yang saya perlukan bukanlah menentukan subjek sebelum memotret, melainkan memahami setelahnya, “Apa yang sebenarnya memantik respons saya?”
Anda telah memiliki “cara melihat” yang khas
Jika Anda merasa “tidak tahu apa yang harus dipotret”, tidak perlu memaksakan diri untuk menciptakan sebuah subjek. Pertama-tama, cobalah meninjau kembali foto-foto yang Anda ambil karena terasa menarik.
Di dalamnya, Anda mungkin menemukan hal-hal yang berulang kali memantik respons Anda, seperti cahaya, warna, ekspresi seseorang, atau atmosfer yang hening.

Foto oleh HANA-STUDIO
Kesamaan itulah yang membentuk perspektif khas Anda. Menguasai teknik memang penting, tetapi memahami apa yang menggerakkan hati Anda juga sama pentingnya.
Saya rasa, subjek bukanlah sesuatu yang diciptakan dengan sengaja, melainkan sesuatu yang diungkapkan kepada kita oleh foto-foto kita sendiri.

