MAGAZINE

Read Your Photography | Hanya Shutter yang Menjadi Nafas | Focus #691

By cizucu ·

Read Your Photography | Hanya Shutter yang Menjadi Nafas | Focus #691

Cover photo by 暴龍

Dalam 'Read Your Photography', kami mengajak Anda menelusuri “narasi” di balik karya fotografi—sesuatu yang tak dapat dijumpai hanya dengan melihat permukaannya. Bersama karya-karya yang dikumpulkan melalui yang diinisiasi oleh cizucu dan media sosial, latar belakang terciptanya setiap karya serta waktu yang unik bagi masing-masing individu diterjemahkan oleh cizucu Magazine ke dalam 12 bahasa dan disebarluaskan ke seluruh dunia.

Menyimpan kisah itu dalam hati adalah sebuah pilihan. Namun, perasaan tersebut bisa saja menyentuh hati seseorang secara diam-diam dan melahirkan pengalaman yang belum pernah dirasakan sebelumnya.

Kali ini, kami mempersembahkan karya dari lima fotografer yang berasal dari berbagai penjuru dunia.
Mari, kita intip pelan-pelan narasi yang unik dan tak tergantikan itu.

oogle’s Story

2026-07-read-your-photography-only-the-shutter-image-3

Foto oleh oogle

oogle

📚 01

Di Danbara, Minami-ku, Hiroshima—tempat saya lahir dan besar—terdapat Bukit Hijiyama yang membentang mengikuti kontur kota.
Danbara juga dikenal sebagai kawasan yang selamat dari dampak bom atom berkat perlindungan bayangan Bukit Hijiyama.

Atap Museum Seni Kontemporer Hiroshima yang terletak di puncak bukit ini, jika dilihat dari atas, terbuka membentuk huruf C, dan dikatakan bahwa ujungnya mengarah ke lokasi pusat ledakan bom atom, tempat patung Henry Moore “Arch” menghadap.
Pada foto ini, saya membalik arah pandangan tersebut, menggunakan “Arch” sebagai bingkai, mengatur komposisi antara bunga sakura dan museum, lalu menunggu momen seseorang melintas untuk memotret.

Jika memandang pusat ledakan dari museum melalui lengkungan “Arch” adalah sebuah doa untuk perdamaian, maka pemandangan dari sisi sebaliknya ini terasa seperti potret kehidupan sehari-hari yang damai di masa kini.

Redaksi cizucu
Nuansa lembut bunga sakura dan geometri arsitektur museum seni kontemporer berpadu, sementara patung “Arch” menjadi bingkai yang secara halus mengarahkan pandangan dan menghubungkan kita pada memori kota. Alih-alih mengungkapkan harapan akan perdamaian secara gamblang, foto ini menyiratkan bobot sejarah dalam ketenangan keseharian. Sebuah karya yang kekuatan visualnya dibangun dengan penuh ketelitian.

P H Lee’s Story

2026-07-read-your-photography-only-the-shutter-image-6

Foto oleh P H Lee

P H Lee

📷 RICOH GR IV
📚 02

Saya adalah penderita migrain kronis berat dan telah berjuang melawan penyakit ini selama 20 tahun.
Perubahan suhu, kelembapan, stres, ketidakstabilan emosi, bahkan rasa lapar yang berlebihan—semua faktor itu dapat memicu migrain yang tak pernah bisa diabaikan.

Hari itu, saya berangkat dari Taipei sejak pagi dan menyelesaikan urusan pekerjaan di Linkou, sebuah kawasan di tepi cekungan. Pada pertengahan Maret, kelembapan di Linkou sangat tinggi dan hujan musim semi pun mulai turun. Seperti yang sudah saya duga, migrain kembali menyerang. Saya menyelesaikan pekerjaan hari itu dengan menahan sakit, lalu kembali ke stasiun MRT Linkou pada sore hari.

Saat berdiri di peron, saya begitu terkesan oleh pemandangan kabut tebal yang menyelimuti segalanya. Kabutnya begitu pekat, seolah-olah warna-warna dunia lenyap, dan saya pun tak tahu ke mana rel kereta bawah tanah itu menuju. Gedung-gedung tinggi yang sedang dibangun—simbol dari pembangunan kembali kota—justru tampak seperti lanskap pasca-apokaliptik yang suram di tengah kabut.

Rasa sunyi dan hampa itu mungkin saja mencerminkan kebingungan dan ketidakpastian dalam diri saya sendiri.

Redaksi cizucu
Peron yang tertelan kabut tebal membangkitkan imajinasi akan “langkah berikutnya” yang tak terlihat, sekaligus menyimpan kegelisahan seolah-olah itu adalah jalan buntu. Rasa sakit migrain, kelembapan, dan nuansa apokaliptik dari deretan gedung baru berpadu, menghadirkan karya yang menyentuh sensasi tubuh pembaca dan penikmatnya. Putihnya kabut menegaskan kontur kebimbangan dengan sangat jelas.

MATTHEW H. STURGESS’s Story

2026-07-read-your-photography-only-the-shutter-image-9

Foto oleh MATTHEW H. STURGESS

2026-07-read-your-photography-only-the-shutter-image-10

Foto oleh MATTHEW H. STURGESS

MATTHEW H. STURGESS

📚 03

Pada suatu pagi di bulan Desember 2025, saat sedang menikmati kopi di rumah saya di Singapura, tiba-tiba terdengar suara burung yang keras dari luar. Kebetulan hari itu saya memang berencana pergi ke taman alam terdekat pada siang hari, sehingga kamera sudah saya siapkan dan siap digunakan.

Saya segera mengenali suara itu sebagai suara khas burung rangkong, lalu saya mengambil kamera dan bergegas keluar rumah, langsung menuju jalan. Sambil menyalakan kamera dan mengatur pengaturan, saya hampir tidak sempat memperhatikan lalu lintas (untungnya tidak ada mobil yang lewat).

Saat saya mengarahkan lensa ke langit, saya melihat burung rangkong yang indah sedang terbang tepat di atas kepala. Namun, burung itu sedang dikejar oleh sekelompok burung gagak (dikenal sebagai “murder” dalam istilah kolektif), yang tampak sangat agresif terhadap mangsanya.

Saya tanpa ragu mengatur posisi kamera dan memotret rangkaian momen pertarungan itu secara beruntun. Salah satu foto tersebut akhirnya menjadi “momen menentukan” yang saya abadikan.

Pada akhirnya, burung rangkong itu berhasil lolos (meski kehilangan beberapa bulu ekornya). Dari pengalaman ini, saya belajar pentingnya selalu menyiapkan peralatan kamera dan siap bergerak kapan saja. Kesempatan bisa datang di saat yang tak terduga.

Redaksi cizucu
Dalam kejar-kejaran yang menegangkan, fakta bahwa “karena sudah siap, maka bisa memotret” mengubah kebetulan menjadi keniscayaan yang menyenangkan. Dalam sekejap di langit, pertarungan dengan gagak, tubuh yang melompat ke jalan, dan deretan jepretan shutter—semuanya berpadu menjadi “momen menentukan”. Kisah ini mengingatkan kita bahwa peluang bukan untuk ditunggu, melainkan untuk dikejar.

黃亭綸’s Story

2026-07-read-your-photography-only-the-shutter-image-13

Foto oleh 黃亭綸

黃亭綸

📚 04

Gambar yang dihasilkan melalui teknik multiple exposure bukan hanya sekadar satu foto, melainkan juga menjadi wadah untuk menerima dan menganalisis emosi berlapis yang saya alami akibat penyakit “depresi” yang saya derita.

Dua gerakan tubuh yang berbeda—mencari, runtuh, dan seolah berdoa—memperlihatkan salah satu sisi nyata dari proses hidup bersama penyakit ini. Gambar di sini bukan sekadar dokumentasi, melainkan juga sarana untuk mengekspresikan batin, mengubah momen-momen yang tak terucapkan menjadi satu foto yang lembut namun nyata. Di dalamnya, waktu terasa terkompresi.

Bagi saya, fotografi bukan hanya tentang waktu yang mengalir antara subjek dan fotografer, tetapi juga jembatan yang menghubungkan manusia dengan dirinya sendiri. Saya percaya, dalam hubungan itu terdapat kemungkinan yang tak terbatas.

Redaksi cizucu
“Lapisan” yang dihasilkan oleh multiple exposure memperlihatkan emosi secara langsung, menggantikan kata-kata untuk menjelaskan kondisi batin. Runtuh, mencari, dan seolah berdoa—jejak gerakan tubuh menangkap realitas waktu yang dijalani bersama penyakit. Proses di mana fotografi menjadi “jembatan” yang menghubungkan diri dengan dunia, disampaikan dengan kekuatan yang tenang namun pasti.

暴龍’s Story

2026-07-read-your-photography-only-the-shutter-image-16

Foto oleh 暴龍

暴龍

📚 05

Pada suatu Juli yang terik, saya diberhentikan dari pekerjaan.
Untuk pertama kalinya sejak dewasa, saya memiliki waktu kosong yang bisa disebut “liburan musim panas”.

Sebelum melangkah ke babak berikutnya, saya memutuskan untuk membiarkan diri saya tersesat sejenak. Saya mengambil kamera dari lemari penyimpanan, memasukkan beberapa kaos ke dalam tas, dan naik kereta tanpa tujuan.
Kota tetap sibuk seperti biasa, orang-orang berjalan cepat di jalanan pagi.
Sementara itu, saya duduk di rumah makan pukul 10 pagi, merasa seolah terputus dari dunia.

Cheese danbing dan teh merah. Sarapan sederhana. Inflasi tetap berat, tapi jika tidak makan, rasa lapar takkan hilang. Saya memasang earphone dan memutar lagu Lin Qiang “Dan Jun De Ren”. Saya berharap bisa menjadi sesederhana itu.

Namun kenyataannya, informasi terus mengalir tanpa henti.
Berita, masyarakat, media sosial. Tak ada ruang untuk berhenti.
Di zaman seperti ini, adakah orang yang benar-benar “sederhana”?

Kereta terus melaju ke utara, hanya lanskap yang berganti-ganti.
Kota, sungai, pabrik, laut, pedesaan.

Hanya pada saat menekan shutter, nafas kembali.
Detak itu berbisik pelan.
Masih hidup, katanya.

Redaksi cizucu
Perjalanan yang dimulai dari kehilangan bukan tentang penyelamatan yang dramatis, melainkan tentang mengembalikan detak jantung melalui perubahan lanskap, waktu di rumah makan, dan sepenggal musik. Dalam era yang dibanjiri informasi, ungkapan “hanya saat menekan shutter, nafas kembali” terasa sangat membekas. Kisah ini mengajarkan dengan kehangatan yang tenang bahwa fotografi bisa menjadi alat untuk merasakan kembali makna hidup.

Sebagai Penutup

Bagaimana menurut Anda?

Kami ingin terus menyoroti daya tarik yang tak bisa sepenuhnya diungkapkan hanya melalui visual. 'Read Your Photography' adalah inisiatif untuk menyoroti perasaan dan emosi di balik foto, serta menerima kisah tersebut sebagai sebuah narasi.

Yang terekam hanyalah sekejap. Namun di baliknya, ada waktu yang terus mengalir dan emosi yang tak terucapkan.

Silakan nikmati karya-karya ini, seolah Anda sedang membaca foto dan membalik halaman demi halaman.

Cara Berpartisipasi

Di cizucu, tema fotografi akan diposting secara spontan.
Anda hanya perlu membalas dengan “satu karya Anda” yang sesuai dengan tema tersebut.

Syarat partisipasi hanya satu: follow akun media sosial cizucu 💙
Dari karya-karya yang dikirimkan, tim redaksi cizucu akan menghubungi peserta yang terpilih melalui pesan langsung!

Dalam 'Read Your Photography', kami juga memperkenalkan karya-karya yang dipamerkan dalam yang diselenggarakan oleh cizucu.

ppp mungkin juga sedang berlangsung di negara Anda. Pertemuan yang terjalin hanya karena “cinta pada fotografi” kini telah meluas ke seluruh dunia.

Rekomendasi Tim Editorial