Melalui wawancara dengan fotografer yang mengejar ekspresi fotografi dari perspektif unik, kami mendalami asal-usul kreatif, pemikiran, dan proses penciptaan mereka, serta menghadirkan inspirasi baru bagi fotografer dan media fotografi di seluruh dunia.
Akar kreatif dan pemikiran yang dijunjung tinggi oleh fotografer berbasis Jerman, Ute Mahler. Mengarsipkan dan mendokumentasikan pemikiran-pemikiran ini dalam kata-kata pada era sekarang diyakini akan menjadi salah satu pilar budaya fotografi masa depan.
Melalui "10 Pertanyaan" kali ini, kami menelusuri proses hingga ekspresi artistiknya terwujud.

©︎ LiaDarjes
Ute Mahler
Latar belakang saya berakar pada tradisi fotografi dokumenter, dan saya selalu mencari momen yang "sejati". Sebagai salah satu pendiri agensi OSTKREUZ, saya telah mendokumentasikan kehidupan di dalam dan luar Jerman selama puluhan tahun. Ketertarikan mendalam pada manusia, lingkungan mereka, dan perpecahan sosial menjadi inti pendekatan saya. Dari karya fashion awal hingga proyek jangka panjang bersama Werner Mahler saat ini, tujuan saya adalah menangkap esensi puitis dari realitas.
Instagram : @uwmahler
Q1. Bisakah Anda ceritakan tentang asal-usul fotografi Anda dan aktivitas Anda saat ini?
Fotografi selalu menjadi bagian dari hidup saya. Saya sudah memotret sejak kecil, sangat dipengaruhi oleh ayah saya yang juga seorang fotografer. Saya tidak pernah mempertimbangkan jalur lain selain fotografi. Setelah belajar fotografi di Leipzig, saya bekerja sebagai freelancer, menjalankan proyek pribadi sejak awal sembari mengambil pekerjaan untuk penghidupan.
Pada masa Jerman Timur, saya memotret fashion untuk majalah budaya dan mode 'Sibylle', dan setelah 1990, saya membuat banyak potret dan esai foto sebagai fotojurnalis atas permintaan majalah 'Stern'. Pada 2008, saya berhenti dari fotografi komersial, mengajar sebagai dosen fotografi, dan fokus pada praktik artistik. Saat ini, saya masih aktif berkarya secara intensif bersama Werner Mahler dan sebagai anggota kolektif seniman.

©︎ Ute Mahler
Q2. Apa elemen atau tema yang paling Anda junjung tinggi dalam karya Anda?
Saya selalu tertarik pada "manusia". Baik sebagai individu maupun sebagai bagian dari kelompok.
Karya besar pertama saya, 'Living Together', saya kerjakan selama 18 tahun. Intensitasnya bervariasi tiap tahun, namun saya selalu meluangkan waktu saat pemotretan. Saya ingin orang-orang mempercayai saya dan bergerak secara alami di lingkungan mereka, bukan berpose di depan kamera.

©︎ Ute Mahler
Pada akhirnya, saya ingin mereka melupakan bahwa saya adalah fotografer, dan melihat saya sebagai sesama manusia. Tidak ada rekayasa dalam seri ini. Memaksakan pemikiran saya pada orang lain akan terasa membosankan.
Saya ingin menemukan. Bagaimana orang hidup, bergerak di ruang, dan berinteraksi satu sama lain—itulah yang ingin saya tangkap dalam fotografi. Tentu saja, dalam fotografi fashion saya melakukan pengarahan, namun bisa menggunakan dua pendekatan berbeda ini secara bersamaan adalah hal yang luar biasa.
Q3. Bagaimana karya Anda tercipta? Apakah ada intuisi, kebetulan, atau keputusan di lokasi? Mohon ceritakan sisi di balik proses kreatif Anda.
Di kepala saya selalu ada tema yang saya eksplorasi. Saat memotret, saya meluangkan waktu sesuai kebutuhan tema dan diri saya sendiri. Kadang prosesnya singkat, namun itu jarang terjadi.
Hampir selalu, saya mengerjakan proyek selama bertahun-tahun. Jika saya sangat tertarik pada sesuatu dan merasa belum benar-benar mengenalnya, itu bisa menjadi tema. Saya mempertimbangkan apakah tema itu penting secara sosial, sangat personal, atau keduanya. Saya juga mencoba memahami mengapa saya ingin memotret subjek, orang, atau topik tertentu.
Kemudian saya menentukan konsep estetika dan mulai memotret. Pada saat yang sama, saya juga memberi ruang untuk kebetulan. Saya suka terkejut oleh kebetulan. Saya sangat menyukai foto yang subjektif, presisi, namun tidak mengungkapkan segalanya—foto yang masih menyimpan rahasia.
Q4. Apa yang menjadi pendorong utama Anda untuk terus berkarya?
Masih banyak hal yang bisa ditemukan dan dilihat. Saya sangat penasaran dan mencintai profesi sebagai fotografer. Fotografi adalah catatan pengalaman dan catatan hidup. Ketika saya melihat karya saya, saya membacanya seperti membaca buku harian. Saya sedang membaca kehidupan saya sendiri.

©︎ Ute Mahler
Bahkan saat memotret potret orang asing, sebagian dari diri saya selalu ada di dalamnya. Saya juga suka bercerita. Itulah mengapa mempresentasikan karya saya melalui pameran atau buku foto sangat penting bagi saya. Dengan menyusun foto dalam urutan tertentu dan menciptakan dialog antar gambar, saya dapat menyampaikan kisah saya dengan lebih hidup.
Q5. Tunjukkan satu karya favorit Anda. Ceritakan kisah di baliknya dan alasan Anda memilihnya.
Sulit bagi saya untuk memilih "satu karya favorit". Setiap foto yang saya pilih dan cetak di kamar gelap sangat saya cintai, meskipun tidak semuanya memiliki intensitas atau signifikansi yang sama.
Fotografi analog adalah ruang kerja saya, dan saya masih mengingat setiap pertemuan dan peristiwa yang terjadi di sana. Mungkin karena proses di kamar gelap sangat melelahkan, bau bahan kimia yang menyengat, dan waktu yang lama di dalam kegelapan.

©︎ Ute Mahler
Namun, jika harus memilih satu, saya akan memilih foto anak-anak sirkus berjumlah empat orang. Saya telah berkali-kali melihat, mencetak, dan me-retouch print baryta-nya dengan tangan. Namun, kehadiran anak-anak itu, gradasi abu-abu yang indah, dan sensasi magis yang saya rasakan saat memotret mereka pada tahun 1973, masih tetap terasa hingga kini.
Q6. Menurut Anda, apa makna fotografi di era AI?
Saya rasa, pekerjaan yang bersifat teknis dan rutin akan semakin digantikan oleh AI. Namun, seni diciptakan oleh seniman—oleh individu yang berpikir, merasakan, dan membawa pengalaman pribadi ke dalam karya. Subjektivitas adalah potensi terbesar menurut saya.

©︎ Ute Mahler
Q7. Dalam lanskap fotografi Jerman, gerakan atau komunitas apa yang menurut Anda penting?
Ketika berbicara tentang fotografi Jerman, orang sering memikirkan nama-nama besar seperti August Sander, Bernd & Hilla Becher, Andreas Gursky.
Di sana terdapat baik fotografi dokumenter maupun seni. Banyak seniman menekankan produksi dalam bentuk "seri". Di sisi lain, di bidang jurnalisme dan aplikasi, banyak fotografer berbakat juga aktif.

©︎ Ute Mahler
Fotografi dipamerkan di museum-museum utama dan diakui sebagai bagian penting dari seni. Di Berlin, saya ingin menyoroti C/O Berlin. Ruang pamer ini secara rutin memperkenalkan fotografer kelas dunia, sekaligus menampilkan bakat dan tren baru secara seimbang. Jumlah pengunjung yang sangat besar menunjukkan tingginya minat terhadap media ini.
Q8. Apakah Anda mendapatkan inspirasi atau ketertarikan dari skena fotografi atau kreator di negara lain?
Foto yang baik selalu menginspirasi saya. Sepanjang hidup, saya terpesona oleh karya rekan-rekan seprofesi, karena mereka memiliki sudut pandang unik terhadap subjek dan mengekspresikannya dengan cara yang sangat indah.
Saya tidak memiliki "satu pahlawan". Yang selalu membekas di hati saya adalah gambar itu sendiri dan kekuatannya. Pada setiap fase kehidupan, saya terbuka pada berbagai ekspresi fotografi, karena itu selalu terkait dengan dunia saya sendiri dan pemikiran serta perasaan saya saat itu.

©︎ Ute Mahler
Namun, ada karya yang selalu saya hormati dan kagumi. 'Exiles' karya Josef Koudelka, 'In Flagrante' karya Chris Kilipp. Dan saat pertama kali melihat buku foto 'Ravens' karya Masahisa Fukase, saya benar-benar terkesima. Kekuatan emosi dan metafora di dalamnya luar biasa. Karya yang agung. Bagi saya, buku ini masih menjadi buku foto terbaik sepanjang masa.
Q9. Apa hal yang ingin Anda tantang seumur hidup Anda?
Hal terpenting dalam hidup saya adalah keluarga. Dan rasa ingin tahu. Tetap terbuka terhadap segala hal.

©︎ Ute Mahler
Q10. Apa pesan yang ingin Anda sampaikan kepada para kreator di seluruh dunia saat ini?
Pertanyaan yang sangat penting. Jawaban saya sangat sederhana: teruslah percaya pada fotografi.

