KontesMajalahphoto poster project
ChallengeFocusIssueKnowledgeReleaseNewsEvent

MAGAZINE

Read Your Photography | Menelusuri Jejak Waktu | Focus #625

By cizucu · 6 Maret 2026

Seri 『Read Your Photography』
Read Your Photography | Menelusuri Jejak Waktu | Focus #625

Cover photo by Lam Tsz Fung

Read Your Photography | Menelusuri Jejak Waktu | Focus #625

Cover photo by Lam Tsz Fung

Threads, media sosial berbasis teks yang disediakan oleh Meta, menjadi wadah bagi beragam ekspresi dari seluruh dunia setiap harinya.

Dalam 'Read Your Photography', kami mengajak Anda untuk menelusuri “narasi” di balik karya fotografi—sesuatu yang tak dapat dijumpai hanya dengan melihat permukaannya. Bersama karya-karya yang dikumpulkan melalui Threads, cizucu Magazine menerjemahkan latar belakang dan waktu personal di balik setiap foto ke dalam 12 bahasa, lalu menyebarkannya ke seluruh dunia.

Menyimpan cerita di dalam hati adalah sebuah pilihan. Namun, barangkali perasaan itu akan menyentuh hati seseorang secara diam-diam dan melahirkan pengalaman yang belum pernah dirasakan.

Cara Berpartisipasi

Di Threads cizucu, tema fotografi akan diposting secara spontan.
Anda hanya perlu membalas dengan “satu karya Anda” yang sesuai dengan tema tersebut.

Syarat utama untuk berpartisipasi adalah mengikuti akun media sosial cizucu 💙
Dari karya-karya yang dikirimkan, tim editorial cizucu akan menghubungi para fotografer terpilih melalui pesan langsung!

cizucu on Threads
cizucu on Instagram

Kali ini, kami mempersembahkan karya dari lima fotografer yang berasal dari berbagai penjuru dunia.
Mari, intip sejenak narasi yang unik dan tak tergantikan ini.

5 STORIES

2026-03-read-your-photography-vol-1-image-8

Photo by CLori

CLori

📷 SONY α7C II
📚 01

The Story

Di atas selembar kertas kecil, terdapat tulisan yang sangat mungil, dan seekor kupu-kupu tampak sedang membacanya.
Atau mungkin, ia hanya kebetulan hinggap di sana.

Mungkin aku ingin menelusuri asal cahaya ini, dan sekalian melihat kupu-kupu itu.
Atau, mungkin aku ingin mengamati kupu-kupu ini, dan sekalian memperhatikan cahaya itu.
Aku sangat bersyukur bisa mengabadikan momen ini.

Itu seperti diriku sendiri. Setelah sekian lama mencari, aku akhirnya menemukan sesuatu, lalu maju perlahan dengan meraba-raba, dan jika terasa aman, aku akan bertahan di sana; jika cocok, aku akan bersinar, dan seseorang mungkin akan memperhatikanku. Jika tidak cocok, aku akan menjadi seperti lumpur yang tak tersentuh cahaya.

Selama 21 tahun hidupku, aku semakin mampu menembus segala sesuatu. Namun, seiring waktu, aku juga semakin merasa tidak ingin menembus semuanya.

Apa yang dipikirkan kupu-kupu itu? Apakah ia punya kegelisahan? Apakah ia punya minat atau hobi?
Mungkin apa yang ia baca hanyalah ketertarikan sesaat selama tiga menit. Aku pun sama.
Aku yakin, aku tidak akan pernah bisa menembus dunia ini sepenuhnya.

Saat cahaya menyorotiku, aku menjadi terlihat.
Tapi itu bukan waktuku.
Saat cahaya tak menyapa, tak seorang pun memperhatikanku.

Tapi semua itu adalah waktuku sendiri.
Waktuku tiba-tiba menjadi sangat berharga.


Redaksi cizucu
Dari satu foto, renungan yang begitu hening dan mendalam dapat berkembang. Pandangan yang menyandingkan kupu-kupu, cahaya, dan diri sendiri terasa sangat peka dan jujur. Kemampuan untuk menembus sesuatu dan keinginan untuk tidak menembusnya—keduanya adalah bukti kepekaan. Baik momen yang diterangi cahaya maupun waktu dalam kegelapan, semuanya adalah waktu yang tak tergantikan. Kami sangat berterima kasih karena telah mengabadikan kesadaran ini dalam sebuah karya fotografi.

2026-03-read-your-photography-vol-1-image-12

Photo by hiro_photograph_0113

hiro_photograph_0113

📷 OLYMPUS IMAGING CORP. E-510
📚 02

The Story

Higashi Chaya-gai, salah satu destinasi wisata utama di Kanazawa.
Saat ini, kawasan tersebut ramai dikunjungi wisatawan, baik dari Jepang maupun mancanegara.

Namun, ketika pandemi COVID-19 melanda dunia, dan kemudian gempa bumi Noto pada era Reiwa 6 terjadi, kawasan ini benar-benar kehilangan jejak manusia.

Nuansa sunyi dan terbengkalai itu saya abadikan dalam karya ini.
Saya tidak akan pernah melupakan kebaikan masyarakat Taiwan yang segera mengulurkan bantuan.


Redaksi cizucu
Pemandangan Higashi Chaya-gai yang dulu penuh keramaian, kini diselimuti keheningan—kontras yang begitu menyentuh. Karya ini merekam bukan hanya kemegahan destinasi wisata, tetapi juga dinamika zaman dan kecemasan sosial di baliknya. Lanskap tanpa manusia menyimpan bukan sekadar kehilangan, melainkan juga bobot waktu yang menanti pemulihan. Rasa terima kasih atas bantuan dari Taiwan membuat foto ini melampaui sekadar dokumentasi, menjadi karya yang menyampaikan hubungan antarmanusia. Sebuah karya yang sangat tulus dalam mewariskan kenangan ke masa depan.

2026-03-read-your-photography-vol-1-image-16

Photo by Lawrence Liou

Lawrence Liou

📚 03

The Story

Pada hari itu, di Plaza de España, aku melangkah ke ruang di mana aku tak lagi perlu terburu-buru membuktikan diri. Dulu, fotografi bagiku adalah sebuah “jawaban”—jawaban untuk dunia, untuk ekspektasi, untuk pertanyaan “apakah aku cukup baik?”.

Namun, di antara reruntuhan yang pernah dijajah, dilupakan, dan perlahan dimaafkan oleh waktu, aku menyadari: makna keberadaan suatu tempat tidak selalu harus dijelaskan sejak awal.

Cahaya menembus celah sejarah, jatuh perlahan di bingkai jendela dan dinding yang penuh noda.
Cahaya itu tidak membanggakan berapa abad yang telah ia lalui, tidak pula terburu-buru menerangi jawaban siapa pun. Ia hanya diam di sana, seolah menunggu.

Menunggu waktu menyelesaikan kisahnya. Saat menekan tombol rana, sebenarnya aku tidak berusaha menggenggam apa pun—bukan kemegahan, bukan kesempurnaan, apalagi “keindahan”. Aku hanya ingin mengabadikan momen itu.

Aku akhirnya mengizinkan diriku untuk tidak menjadi “seseorang yang berusaha” di dalam foto.
Yang terekam dalam foto ini bukanlah lanskap, melainkan saat aku untuk pertama kalinya berdiri di hadapan sejarah, mengakui kecilnya diriku, dan merasa diterima secara hening.

Jika fotografi adalah sebuah tindakan “membaca”, maka hari itu yang kubaca bukanlah masa lalu Guam, melainkan diriku sendiri yang akhirnya mulai melangkah perlahan.

Dan aku ingin membagikan keheningan ini kepada siapa pun yang masih berada di perjalanan.


Redaksi cizucu
Berdiri di hadapan sejarah dan menerima keterbatasan diri—momen itu terekam dalam satu karya yang penuh keheningan. Sebuah karya yang tidak bertujuan memberi jawaban, melainkan mengizinkan “keberadaan” itu sendiri. Seperti cahaya yang tidak terburu-buru atau membanggakan diri, pandangan yang hadir di tempat itu terasa begitu tulus. Fotografi sebagai tindakan membaca ulang waktu pribadi, melampaui sekadar lanskap. Tekad yang tenang dan kelembutan yang kuat, semuanya terpatri di sini.

2026-03-read-your-photography-vol-1-image-20

Photo by Lam Tsz Fung

Lam Tsz Fung

📷 NORITSUKOKI EZ Controller
📚 04

The Story

Ini adalah nenek saya.
Foto ini diambil setelah makan malam reuni tahun 2022.
Itulah kali terakhir kami duduk bersama di meja makan.

Saya sudah tidak bisa lagi mengingat jelas suara nenek.
Hangatnya tangan beliau, atau rasa pasti dari masakan buatannya pun mulai samar. Namun, wajahnya dan ajaran yang ia wariskan tetap hidup dalam ingatan saya.

“Jika harus memilih antara menjadi benar atau menjadi baik, pilihlah kebaikan.”

Saat wabah SARS tahun 2003, sekolah diliburkan dan saya menghabiskan hari-hari bersama nenek di rumah.
Di masa itulah beliau berkata demikian. Saya tidak tahu dari mana beliau mendengar kata-kata itu.

Seperti banyak orang seusianya yang tumbuh di masa perang, nenek saya tidak bisa membaca.
Namun, kata-kata itu berakar kuat di dalam diri saya. Ia menjadi bagian dari cara saya melangkah di dunia.

Kehidupan nenek dibentuk oleh berbagai kesulitan. Ia bahkan tidak tahu tanggal lahirnya sendiri.
Beliau meninggalkan Tiongkok saat perang dan pindah ke Hong Kong. Kenangan masa kecil, tahun-tahun penuh konflik, kisah ketakutan dan kelaparan, serta harapan yang tak pernah padam, semuanya ia bawa dalam hati.

Saat bercerita, saya bisa merasakan kepedihan atas apa yang telah ia lalui, empati pada orang lain, dan kekuatan yang membuatnya terus melangkah. Ia adalah bukti bahwa kebijaksanaan tidak selalu membutuhkan pendidikan formal.
Kebijaksanaan itu hidup dalam tangan yang stabil, sikap mendengarkan dengan saksama, dan semangkuk sup yang dibuat dengan penuh perhatian.

Bahkan ketika lebih mudah untuk menjadi benar, beliau tetap memilih kebaikan—itulah keberanian yang tenang.

Terima kasih, Nenek.

Aku merindukanmu.


Redaksi cizucu
Bobot waktu dan kasih sayang yang tenang bersama nenek begitu terasa di setiap kalimat. Meski kenangan perlahan memudar, “kebaikan” yang diwariskan tetap hidup hingga kini. Sebuah foto dapat memuat suara, filosofi, dan bahkan zaman yang dijalani seseorang. Pesan untuk memilih kebaikan daripada kebenaran akan berakar di hati siapa pun yang membacanya. Terima kasih telah membagikan kenangan berharga ini.

2026-03-read-your-photography-vol-1-image-24

Photo by shannyeh

shannyeh

📚 05

The Story

Di tanah suku Maasai Mara di Afrika, saya melihat anak-anak Maasai berlari dan bermain tanpa alas kaki, menjejakkan kaki di tanah yang hangat.

Saat itu saya sadar, bagi mereka, tanah bukanlah sekadar “lanskap” seperti yang saya lihat, melainkan bagian yang tak terpisahkan sejak lahir.

Tanpa batasan sol sepatu, mereka merasakan langsung tekstur, suhu, dan aroma tanah dengan telapak kaki mereka.
Hubungan paling purba dan langsung antara mereka dan bumi masih terjaga hingga kini.

Relasi ini sangat mengguncang saya.
“Berdiri di atas tanah” ternyata bisa menjadi tindakan yang begitu nyata dan naluriah.

Jejak kaki mereka tertinggal di lumpur, lalu hilang sekejap ketika diterpa angin dan pasir.
Namun, energi bumi telah berakar dan hidup dalam budaya Maasai.


Redaksi cizucu
Pandangan hangat terhadap anak-anak yang berlari tanpa alas kaki di tanah begitu membekas. Alih-alih memandang tanah sebagai “lanskap” yang dikonsumsi, karya ini menyampaikan penghormatan pada kehidupan dan budaya yang berdenyut di sana. Jejak kaki mungkin hilang tertiup angin, tetapi kehangatan dan detaknya tetap terasa. Sebuah karya yang penuh syukur dan kasih atas perjumpaan.

Penutup

Bagaimana menurut Anda?

Kami ingin terus menyoroti daya tarik yang tak dapat sepenuhnya diungkapkan hanya lewat visual. 'Read Your Photography' adalah program yang mengajak Anda untuk menelusuri makna dan emosi di balik karya fotografi, serta menerima setiap foto sebagai sebuah narasi.

Yang terekam hanyalah sekejap. Namun di baliknya, mengalir waktu dan emosi yang tak terucapkan.

Silakan nikmati karya-karya ini layaknya membaca foto dan membalik halaman.

Nantikan edisi berikutnya dari 'Read Your Photography'.
Ikuti seluruh akun media sosial cizucu dan tunggu kabar selanjutnya 📚

cizucu on Threads
cizucu on Instagram

Rekomendasi Tim Editorial

  1. Majalah
  2. Focus
  3. Read Your Photography | Menelusuri Jejak Waktu | Focus #625