KontesMajalahphoto poster project
ChallengeFocusIssueKnowledgeReleaseNewsEvent

MAGAZINE

Jejak Benda dan Budaya Konsumsi Baru dari Nostalgia | Knowledge #14

By cizucu · 3 Januari 2024

Jejak Benda dan Budaya Konsumsi Baru dari Nostalgia | Knowledge #14
Jejak Benda dan Budaya Konsumsi Baru dari Nostalgia | Knowledge #14

Nostalgia yang Bersemayam dalam Keseharian

Pernahkah Anda merasa bahwa "kenangan selalu terasa lebih indah"? Terutama kenangan yang membangkitkan nostalgia, seringkali terasa lebih hangat, indah, dan penuh makna dibandingkan pengalaman lainnya.

Kali ini, kami akan mengulas alasan di balik nilai emosional nostalgia yang melekat pada benda-benda sehari-hari, serta mendalami peran nostalgia dalam budaya konsumsi baru.

Relasi antara Jejak Benda dan Nostalgia

Tren kemarin menjadi vintage hari ini. Setiap benda yang kita gunakan sehari-hari menyimpan jejak yang tak kasat mata. Barang-barang seperti pakaian bekas, kamera film, atau buku yang tampak tak lagi bernilai secara fungsional, kini justru mendapat apresiasi baru dalam konteks retro dan melahirkan nilai yang berbeda. Mengapa jejak benda dapat melahirkan nilai budaya?

2024-01-new-consumer-culture-from-nostalgia-image-5

Image by usubafilm

Dari sudut pandang antropologi, karya antropolog India, Arjun Appadurai, dalam bukunya 'The Social Life of Things: Commodities in Cultural Perspective' membahas nilai budaya dari barang bekas. Appadurai menegaskan bahwa benda, layaknya manusia, memiliki sejarah hidupnya sendiri, dan nilai tukar benda harus dipahami dalam konteks budaya yang lebih luas, melalui proses pertukaran, pemberian, dan kepemilikan yang telah dilaluinya.

Nilai Budaya yang Disebut Romansa

Ambil contoh "pena milik Natsume Soseki". Meskipun pena tersebut sudah rusak dan kehilangan nilai guna, nilainya tetap tinggi. Apalagi jika pena itu dikaitkan dengan kisah "Natsume Soseki menulis surat cinta sambil memandang bulan", maka nilainya akan semakin bertambah. Nilai benda seringkali ditentukan oleh "romansa" dalam jejak sejarahnya. Nilai ini melampaui kegunaan material, mencerminkan kisah, romansa, dan kadang kerinduan pada masa yang telah berlalu.

Misalnya kamera digital saku, kamera film, pakaian bekas, hingga pasar loak tempat kita menemukan benda-benda unik. Semua ini membentuk budaya konsumsi yang berakar pada nilai budaya.

2023-09-old-digital-camera-culture-in-2000s-cover-image
Related MagazineMemoar Kamera Saku Digital | Mengapa Old Digital Camera Kembali Populer | Release #19
By cizucu
2023-10-think-of-shimatsu-kokoro-cover-image
Related MagazineYang Lama Justru Baru: Menelusuri Memori Benda di Pasar Loak | Release #25
By cizucu

Bersama Budaya Konsumsi Baru

Perilaku konsumsi kita tidak hanya didasarkan pada nilai guna yang sederhana, kemudahan, dan fungsionalitas, tetapi juga pada konteks yang lebih personal dan bermakna. Jejak benda dan nostalgia kini menjadi pusat budaya konsumsi baru, di mana kisah dan keterikatan emosional pada setiap benda semakin dihargai. Benda-benda di sekitar kita bukan sekadar alat, melainkan sarana ekspresi diri.

Sebagai penutup, pada 15 Desember 2023 (Jumat) hingga 15 Januari 2024 (Senin), sedang berlangsung Photo Contest 'Aku dan Pakaian Bekas' yang didukung oleh SPINNS. Satu helai pakaian yang Anda kenakan setiap hari bisa jadi memiliki makna lebih dari sekadar barang, dan dapat menjadi inspirasi budaya bagi orang lain. Bagikan kisah Anda bersama pakaian bekas favorit dan unggah pengalaman Anda.

Lihat detail kontes

Rekomendasi Tim Editorial

  1. Majalah
  2. Knowledge
  3. Jejak Benda dan Budaya Konsumsi Baru dari Nostalgia | Knowledge #14